ARTIKEL PERTAMA TERBIT DI BLOG PENA
Link tulisan saya yang terbit di Blog Pena
Pengalaman menulis karya tulis ilmiah sebagai guru tentu sudah menjadi
kegiatan wajib bagi seorang guru, terlebih dalam hal untuk pengajuan naik
pangkat. Jadi menulis bagi seorang guru memang harus terus dilatih dan
dibiasakan. Kesukaan menulis bagi saya memang sudah dilakukan dari kecil,
karena kesukaan saya membaca dan menulis. Tetapi saat itu lebih pada menulis
karangan fiksi karena memang kesukaan saya membaca buku cerita fiksi.
Saat menjadi guru, cara berpikir pun berubah. Ternyata guru harus mampu
menulis dan meneliti. Maka saya pun tertarik untuk belajar menulis yang benar,
bukan hanya sekedar mencurahkan kata-kata. Titik awal ketertarikan saya untuk
belajar menulis adalah pada tahun 2019. Tidak tahu karena apa, kebetulan pada tahun tersebut saya beberapa kali mengikuti kegiatan di tingkat Nasional. Setiap
bertemu dengan guru pada kegiatan tersebut rata-rata memiliki karya tulis
ilmiah atau buku populer. Sedangkan saya saat itu tidak memiliki satupun buku
atau karya tulis ilmiah yang sudah terpublikasi. Puncaknya saat mengikuti
kegiatan Pelatihan membuat jurnal yang diselenggarakan oleh P4TK PKn dan IPS. Di
sana saya bertemu guru-guru penulis dari seluruh Indonesia. Saat itu saya
merasa saya seorang yang tidak memiliki karya tulis yang akan dibagikan kepada
mereka. Sedang yang lain, adalah para peserta Inobel, Peserta Gupres, dan
penulis aktif dalam buku, koran atau jurnal ilmiah lainnya.
Sepulang dari kegiatan tersebut dalam hati saya timbul semangat untuk terus
menulis. Terlebih dari 60 peserta saat itu tulisan saya masuk jadi 10 besar
tulisan pertama yang terbit di Jurnal P4TK Pkn dan IPS. Senang sekali tentunya.
Bukan untuk sebuah rasa jumawa, tapi di sini jadi pecutan bagi saya, ternyata
saya bisa menulis. Tinggal mengasah bagaimana agar tulisan itu menjadi tulisan
yang baik.
Ketika mengikuti pembatik level 4 tahun 2020 saya mengikuti sebuah kegiatan
bincang para DRB, ketika itu salah satu pembicaranya adalag DRB Yogyakarta
tahun 2018 yang merupakan DRB Terinovatif nasional tahun 2018. Saat itu ia
memberikan tips bagaimana bisa terpilih menjadi DRB. Ternyata ia aktif menulis
di blog Pena pada masa penjurian ketika masih menjadi calon DRB. Setelah mengikuti
kegiatan itu saya menjadi penasaran untuk melihat isi dari Blog Pena, maka
mendaftarlah saya pada blog Pena. Iseng saya mengirimkan tulisan di blog saya
mengenai inovasi pembelajaran yang saya lakukan dengan memanfaatkan fitur
sumber belajar untuk dijadikan kuis. Sehari dua hari saya periksa, statusnya
pending. Setelah saya lihat jumlah tulisan yang menunggu untuk terbit sebanyak
hampir 5000 tulisan. Akhirnya, saya tidak terlalu berharap lagi tulisan saya
akan terbit.
Sekitar 2 hari setelah rasa tidak mungkin terbit tulisan di
blog pena, pada suatu waktu DRB Sumsel menginformasikan sebuah kegiatan bincang
dengan narasumber dengan materi bagaiman tips agar tulisan bisa terbit di Blog
Pena. Saya jadi teringat kabr tulisan saya yang sudah di post ke blog pena. Saya
cek kembali, Alhamdulillah tulisan saya ternyata terbit dalam artikel blog pena
bersama dengan salah satu SRB Sumsel lainnya, Ibu Amalia. Rasa senang sekali,
artinya tulisannya sudah memenuhi kriteria untuk terbit di blog Pena. Padahal
saat mengirimkan tulisan saya masih bingung jenis tulisan yang saya buat
kategori opini atau artikel, sehingga saya mencentang kedua kategori tersebut. Ternyata
saat terbit tulisannya dikategorikan sebagai artikel.
Terima kasih blog pena, dan Pembatik level 4 dengan tugasnya membuat blog. Luar
biasa membuat semangat baru. Setelah kegiatan ini saya akan belajar tentang
hosting blog dan mempercantik tampilan blog. Semoga ke depan semakin
memperbaiki kemampuan menulis dan dapat terus berbagi melalui tulisan-tulisan
di blog saya.

terus semangat bekarya mama Azza ....
ReplyDeleteSemangat buk lingga
ReplyDeleteLanjut Bu.. semangat
ReplyDelete